Powered By Blogger
Tampilkan postingan dengan label Biologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Biologi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 01 Januari 2011

Hukum Mendel



I.                  PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Hereditas berarti penurunan sifat-sifat genetik dari orang tua ke anak. Ilmu yang mempelaari tentang hereditas disebut genetika.
Rangkaian gen merupakan struktur kimia yang berbentuk double helix           (ulir rangkap) dengan deoksiribosa dan fosfat sebagai ibu tangga, serta basa nitrogen sebagai anak tangga. Setiap keturunan akan mempunyai fenotif dan genotif     yang hampir sama atau hasil campuran kedua sifat dari induknya. (Prawirohartono, 2003).
Gregor Mendel (1822), seorang pendeta berkebangsaan Austria yang sekarang dikenal dengan sebutan Bapak Genetika. Bukti-bukti perihal keturunan yang ditemukan Mendel yaitu mengetahui bahwa pada semua organisme hidup terdapat "unit dasar" yang kini disebut gen yang secara khusus diturunkan oleh orang tua kepada anak-anaknya. Gen terdapat di dalam lokus tertentu pada kromosom, sedangkan kromosom terdapat di dalam nukleus (Inti sel). Kromosom berpasangan disebut kromosom homolog, dan pasangan gen yang homolog tersebut dikenal dengan alel (Darsyah, 1990).
Menurut Kimball (1994), bahwa hukum segregasi secara bebas                (Hukum Pertama Mendel) secara garis besar mencakup tiga pokok yaitu :
1.  Gen memiliki bentuk-bentuk alternatif yang mengatur variasi pada karakter. Ini adalah konsep mengenai alel.
2.  Setiap individu membawa sepasang gen, satu dari tetua jantan dan satu dari tetua betina.
3.  Jika sepasang gen ini merupakan dua alel yang berbeda, alel dominan akan terekspresikan.  Alel resesif yang tidak terekspresikan tetap akan diwariskan pada gamet yang dibentuk.
Hukum Mendel kedua menyatakan bahwa, setiap ahli dari sepasang alel boleh bergabung secara acak dengan satu alel mana saja dari pasangan gen yang lain ketika berlangsung pembelahan reduksi (meoisis) pada waktu pembentukan gamet-gamet.  Jadi, segregasi pasangan gen tersebut tidak saling ketergantungan dengan pemisahan gen lainnya (Kimball, 1994).

1.2  Tujuan dan Kegunaan
Tujuan dilaksanakannya praktikum percobaan hukum mendel agar mahasiswa dapat lebih memahami cara menentukan perbandingan fenotif dan genotif dalam hukum mendel.
Kegunaan praktikum adalah menambah pengetahuan mahasiswa tentang genetika, dan hukum Mendel.








II.  METODE PRAKTEK
2.1  Waktu dan Tempat
Praktikum Biologi Umum dengan modul yang membahas tentang Konsep Hukum Mendel dilaksanakan pada hari Kamis, 11 Desember 2008 mulai pukul 13.30-17.30 WITA. Bertempat di Laboratorium Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Tadulako, Palu.

2.2  Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam praktikum percobaan Hukum Mendel adalah kancing baju berwarna merah 40 buah dan kancing baju yang berwarna putih 40 buah dengan perumpamaan  sebagai model gen.
Alat yang digunakan adalah dua buah kotak kue serta alat tulis menulis.

2.3  Cara Kerja
     Pertama-tama menyiapkan dua buah kotak dan kacing berwarna merah dan putih sejumlah masing-masing 40 buah. Kemudian pada setiap kotak diisi kancing berwarna merah 20 buah dan yang berwarna putih juga 20 buah. 
Dengan perumpamaan masing-masing kotak (A) sebagai Induk jantan dan kotak (B) sebagai Induk betina, lalu mengocok kedua kotak tersebut agar isinya bercampur. Setelah itu, dengan mata tertutup membuat pasangan gen-gen dari induk jantan dengan gen-gen dari induk betina, yaitu dengan mengambil setiap butir gen dari kotak jantan dan kotak betina secara acak, kemudian mulai mencatat hasil pengamatan yang diperoleh dalam bentuk tabel.
III.  HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1  Hasil
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan dalam praktikum diperoleh data hasil ijiran kancing sebagai berikut :
Macam Pasangan
Ijiran
Perbandingan Genotif
Perbandingan Fenotif
Merah-Merah
Merah-Putih
Putih-Putih
IIII III
IIII IIII IIII IIII IIII
IIII II
1 MM
2 Mm
1 mm
8 Merah
25 Merah-Putih
7 Putih

1. Perbandingan fenotif jika fenotif merah (M) dominan terhadap fenotif putih (m) adalah :
                         Merah  :  Putih
                           33     :      7
2.  Perbandingan fenotif jika sifat gen dominan tidak penuh (Intermediet) yaitu :
                          Merah  :  Merah Putih  :  Putih
                              8       :          25         :       7






3.2  Pembahasan
Pada pengamatan yang dilakukan dalam praktikum dengan menggunakan masing-masing 40 buah kancing berwarna berbeda (merah dan putih) sebagai model gen, dibuat perumpamaan fenotif Merah dominan sempurna terhadap fenotif Putih dengan cara sebagai berikut :
Parental (P) :  Mm     ><    Mm
                       Merah  ><   Putih
Gamet        `:      Mm          Mm
F1                :              Mm
                           (Merah Putih)

M
m
M
MM
(Merah)
Mm
(Merah Putih)
m
Mm
(Merah Putih)
Mm
(Putih)


1.  Perbandingan fenotif jika fenotif merah (M) dominan terhadap fenotif putih (m) adalah :
                         Merah  :  Putih
                           33       :   7
2.  Perbandingan fenotif jika sifat gen dominan tidak penuh (Intermediet) yaitu :
                          Merah  :  Merah Putih  :  Putih
                              8      :          25          :    7
Persilangan monohibrid memiliki ciri-ciri antara lain adalah semua individu F1 seragam atau sama, lalu pada waktu individu F1 yang heterozigot membentuk gamet, terjadi pemisahan alel sehingga gamet memiliki salah satu alel saja, kemudian jika dominasi tampak sepenuhnya, maka individu F1 memiliki fenotif seperti induk yang dominan, dan ketika gen dominan intermedier (tidak penuh), maka fenotif individu F1 tidak seperti salah satu fenotif galur murni, melainkan mempunyai sifat fenotif diantara kedua induknya.  Selain itu dalam perumpamaan, ketika dominasi nampak sepenuhnya maka perkawinan monohibrid (Mm >< Mm) menghasilkan keturunan yang menghasilkan perbandingan fenotif 3 : 1 (¾ Merah : ¼ Putih), tetapi menghasilkan perbandingan genotif 1  :  2  :  1 (¼ MM  :  2/4 Mm  :  ¼ mm)    (Pratiwi, 1997).
Dengan perumpamaan jika fenotif Merah (M) dominan sempurna terhadap fenotif Putih (m), maka jumlah perbandingan fenotif Merah (M) dengan fenotif Putih (m) adalah 18  :  7.  Kemudian pada perumpamaan jika sifat gen dominan intermediet, maka sifat dominan yang paling sering muncul adalah fenotif Merah-Putih (Mm) dengan jumlah fenotif 19.  Hal tersebut karena kondisi sifat dominan fenotif Merah (M) menutupi sifat resesif fenotif Putih (m) (Suryo, 2001).











IV.  KESIMPULAN DAN SARAN
4.1  Kesimpulan
       Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan pada pratikum pengamatan Hukum Mendel, dapat disimpulkan sebagai berikut :
1.   Cabang ilmu biologi yang memepelajari pewarisan sifat dari induk kepada keturunannya (hereditas) serta gejala seluk beluknya secara ilmiah disebut genetika.
2.   pada persilangan monohibrid antara dua individu yang mempunyai satu sifat beda, yang menentukan suatu sifat mengadakan segregasi (pemisahan).
3.  pada percobaan dengan perbandingan fenotipe MM : Mm : mm : 1 : 2 : 1.  Dan M tidak dominan terhadap m dengan perbandingan 3 : 1.  Yang dikarenakan Warna merah muda yang dihasilkan dari percobaan ini disebabkan oleh sifat M yang dominan terhadap m, ataupun sifat m yang tidak resesif terhadap M.  sifat demikian disebut interdemiat.

4.2  Saran
Sebaiknya di dalam pelaksanaan praktikum waktu yang telah ditetapkan digunakan dengan sebaik-baiknya sehingga praktikum dapat berjalan sesuai dengan apa yang diinginkan.
Selain itu, sebaiknya fasilitas yang terdapat di dalam laboratorium dilengkapi seperti tempat duduk dan fasilitas lainnya yang dapat menunjang kenyamanan dalam melaksanakan praktek. Sehingga praktikan dapat lebih menguasai materi praktek dengan baik.

DAFTAR PUSTAKA
Darsyah, M.  , 1990.  Genetika.  Gramedia Pustaka, Jakarta.
Kimball, J.  W.  , 1994.  Biologi Jilid II.  Erlangga, Jakarta.

Pratiwi, 1997.  Biologi.  Universitas Terbuka, Jakarta.

Prawirohartono, S.  , 2003.  Biologi.  Bumi Aksara, Jakarta.

Suryo, 2001.  Genetika Manusia.  Gadjah Mada University Press, Jogjakarta.

Mikroskop



I.  PENDAHULUAN
1.1  Latar belakang
     Mikroskop merupakan alat bantu yang memungkinkan kita dapat mengamati obyek yang berukuran sangat kecil. Hal ini membantu kita dalam memecahkan persoalan tentang organisme atau benda yang berukuran kecil.
     Mikroskop biasanya juga kita gunakan dalam melakukan pengamatan dan penelitian terhadap struktur benda-benda yang kecil. Ada 2 macam mikroskop, yaitu mikroskop optic (mikroskop biologi dan mikroskop stereo) dan mikroskop electron (tunneling electron microscopy (TEM) dan scanning electron microscopy (SEM). TEM dikembangkan pertama kali oleh Ernst Ruska dan Max Knoll, yaitu 2 peneliti dari Jerman pada tahun 1932. Tidak jauh dari lahirnya TEM, SEM dikembangkan pertama kali tahun 1938 oleh Manfred von Ardenne (ilmuwan Jerman). Konsep dasar dari SEM ini sebenarnya disampaikan oleh Max Knoll (penemu TEM) pada tahun 1935 (Nuryadi, 2007).
     Mikroskop pada prinsipnya terdiri dari dua lensa cembung yaitu sebagai lensa objektif (dekat dengan mata) dan lensa okuler (dekat dengan benda). Baik objektif maupun okuler dirancang untuk perbesaran yang berbeda. Setiap lensa objektif dapat diputar ke tempat yang sesuai dengan perbesaran yang diinginkan. Sistem lensa objektif memberikan perbesaran mula-mula dan menghasilkan bayangan nyata yang kemudian diproyeksikan ke atas lensa okuler. Bayangan nyata tadi diperbesar oleh lensa okuler untuk menghasilkan bayangan maya yang kita lihat (Volk, 1984).
1.2  Tujuan dan Kegunaan
     Tujuan dari praktikum biologi ini yaitu memperkenalkan komponen-komponen mikroskop dan cara penggunaannya. Serta mempelajari cara menyiapkan alat dan bahan yang akan diamati dengan mikroskop.
     Kegunaan dari praktikum ini adalah agar praktikan mendapatkan informasi tentang komponen-komponen serta fungsi dari masing-masing komponen mikroskop. Serta cara penggunaan mikroskop sehingga praktikan dapat menggunakan mikroskop dengan mahir. Selain itu, praktikan juga mengetahui  langkah-langkah menyiapkan bahan dan alat-alat yang akan diamati dengan mikroskop.













II. METODE PRAKTEK
2.1  Tempat dan Waktu
     Praktikum Biologi tentang Pengenalan dan Penggunaan Mikroskop ini dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 13 November 2008 pada pukul 13.30 sampai 17.00 WITA, dan bertempat di Laboratorium Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Tadulako.

2.2  Bahan dan Alat
     Alat-alat yang digunakan selama praktikum yaitu mikroskop, cutter, pinset, meja objek dan gelas objek atau gelas penutup (cover glass).
     Bahan-bahan yang digunakan adalah potongan kertas kecil yang bertuliskan huruf “d” dan kentang (Solanum tuberosum).

2.3  Cara Kerja
     Sebelum melakukan pengamatan, langkah pertama yaitu menyiapkan mikroskop. Dengan cara mengambil mikroskop dari dalam lemari dengan hati-hati, setelah itu mencari sumber cahaya melalui cermin cembung atau cekung sampai mendapatkan cahaya yang maksimal..
     Untuk pengamatan preparat huruf “d”, langkah pertama adalah membuat preparat dari potongan kertas kecil yang bertuliskan huruf “d” kemudian meletakkan preparat tersebut ke atas meja objek dan menutup meja objek dengan gelas penutup (cover glass) lalu meletakkannya di kondensor. Kemudian mengamati melalui lensa okuler dengan menggunakan lensa objektif dengan pembesaran 10x. Setelah mengamati preparat tersebut, menggambar perbedaan preparat sebelum diamati dengan sesudah diamati dengan mikroskop.
     Pada pengamatan butir pati kentang, pertama-tama yaitu menyiapkan preparat dengan cara membelah kentang dengan menggunakan cutter, selanjutnya memarut kentang dengan menggunakan pinset. Kemudian meneteskan air pati kentang ke gelas objek dan menutupnya dengan gelas penutup (cover glass) dan usahakan tidak ada terlihat gelembung udaranya. Untuk itu, langkah-langkahnya adalah sebagai berikut: meletakkan air pati kentang ke gelas objek, setelah itu memegang kaca penutup dengan posisi 45o terhadap gelas objek, kemudian menyentuhkan tepi bawah kaca penutup pada permukaan gelas objek dan perlahan-lahan merebahkan kaca penutup sehingga kaca penutup terletak ke atas kaca objek. Setelah mengamati preparat tersebut, menggambar preparat butiran pati kentang (Solanum tuberosum) yang terlihat pada mikroskop.










III.  HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Hasil
     Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan, maka hasil yang diperoleh adalah sebagai berikut:
                                                                                                                                   

Lensa okuler
Tubus
Pengatur kasar
Pengatur halus
Revolver
Lensa objektif
Lengan
Meja preparat
Kondensor
Cermin
Diafragma
Kaki mikroskop




Gambar 1.  Mikroskop beserta bagian-bagiannya.













Gambar 2.  Preparat huruf  “d”  sebelum diamati menggunakan mikroskop.
                               








Gambar 3.  Preparat huruf “d” setelah diamati menggunakan mikroskop pembesaran 10x.





















Gambar 4.  Butiran pati kentang (Solanum tuberosum) yang diamati menggunakan mikroskop dengan pembesaran 10x.













3.2  Pembahasan
     Mikroskop adalah alat yang digunakan untuk mengamati benda yang terlalu kecil untuk dilihat dengan mata telanjang sehingga menjadi alat bantu utama dalam bidang biologi untuk mempelajari struktur benda-benda yang kecil.
     Mikroskop pada prinsipnya terdiri dari dua lensa cembung yaitu sebagai lensa objektif (dekat dengan mata) dan lensa okuler (dekat dengan benda). Baik objektif maupun okuler dirancang untuk perbesaran yang berbeda. Lensa objektif biasanya dipasang pada roda berputar, yang disebut gagang putar. Maka setiap lensa objektif dapat diputar ke tempat yang sesuai dengan perbesaran yang diinginkan (Nuryadi, 2007).
     Mikroskop cahaya terdiri dari beberapa komponen yang memiliki fungsi tersendiri yaitu lensa okuler merupakan lensa mikroskop yang terdapat di bagian ujung atas tabung, berdekatan dengan mata pengamat dan berfungsi untuk memperbesar bayangan yang bersifat maya dan tegak. Lensa objektif bekerja dalam pembentukan bayangan pertama. Lensa ini menentukan struktur dan bagian renik yang akan terlihat pada bayangan akhir, serta berfungsi untuk mengatur pembesaran ukuran untuk kekuatan 4x, 10x, 40x dan 100x. Lensa kondensor berfungsi  untuk mendukung terciptanya pencahayaan pada obyek yang akan dilihat sehingga dengan pengaturan yang tepat maka akan diperoleh daya pisah maksimal Kondensor berfungsi sebagai pengatur letak lensa kondensor terhadap preparat serta untuk mendukung terciptanya pencahayaan pada obyek yang akan difokus. Revolver berfungsi sebagai tempat melekatnya lensa objektif. Meja objek berfungsi untuk meletakkan preparat yang akan diamati.
     Penjepit berfungsi untuk  menjaga kedudukan preparat agar tidak mudah bergeser. Lengan berfungsi untuk memegang mikroskop ketika memindahkan mikroskop. Diafragma berfungsi mengatur cahaya yang masuk dalam mikroskop. Cermin berfungsi mengarahkan cahaya dari luar kedalam kondensor. Kaki atau dasar berfungsi untuk memperkokoh kedudukan mikroskop.
     Setelah mengamati potongan kertas yang bertuliskan huruf ”d” dengan pembesaran 10x, maka hasil yang didapatkan  adalah huruf ”p”, karena sifat bayangan yang dihasilkan oleh mikroskop adalah maya, terbalik dan diperbesar (Misstel, 2007).
     Pada pengamatan pati kentang (Solanum tuberosum), setelah diamati menggunakan mikroskop dengan pembesaran 10x maka akan terlihat butiran-butiran pati kentang yang sangat rapat.








V.  KESIMPULAN DAN SARAN
4.1  Kesimpulan
     Dari hasil praktikum yang diperoleh maka dapat disimpulkan :
1. Bahwa mikroskop sangat penting dan berguna dalam penelitian yang untuk memecahkan persoalan tentang benda-benda kecil dan halus sehingga jelas dengan terlihat.
2. Bagian-bagian dari mikroskop adalah lensa okuler, tabung mikroskop, revolver, lensa objektif, lensa kondensor, meja mikroskop, pengatur kasar dan pengatur halus, kondensor, diafragma, cermin, lengan mikroskop, kaki mikroskop.
3. Pada pengamatan preparat huruf “d” yang membentuk huruf “p”, karena cermin cekung pada lensa okuler dan lensa objek bersifat maya, terbalik dan diperbesar.
4. Pada pengamatan pati kentang (Solanum tuberosum) dengan pembesaran 10x, maka akan terlihat butiran-butiran pati yang sangat  rapat.

4.2  Saran
     Sebaiknya di dalam pelaksanaan praktikum waktu yang telah ditetapkan digunakan sebaik-baiknya agar praktikum dapat berjalan sesuai dengan apa yang diinginkan. Sehingga praktikan dapat menguasai materi praktek dengan baik.
     Selain itu, disarankan agar tersedianya alat-alat yang lengkap bagi praktikan, agar tiap-tiap praktikan dapat menguasai cara penggunaan mikroskop sehingga hasil praktikum menjadi lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA
Bima.  Mikroskop dan Penggunaannya. 
http://bima.ipb.ac.id/~tpb-ipb/materi/bio100/Materi/mikroskop.html.
Diakses pada tanggal 14 November 2008.

Misstel. 2007. Susunan Mikroskop.
http://id.shvoong.com/exact-sciences/physics/1672308-mikroskop/.
Diakses pada tanggal 14 November 2008.

Nuryadi, Ratno.  2007. Mikroskop dan Teknologi Nano
http://nano-indonesia.org/index.php?option=com_content&task=view&id=35&Itemid=1. Diakses pada tanggal 14 November 2008.

Soenarjo.  1993.  Optik Cahaya.  Erlangga, Jakarta.

Volk dan Wheeler.  1984.  Mikrobiologi Dasar Edisi Kelima Jilid I. Erlangga, Jakarta.