Minggu, 07 November 2010

Pengenalan Penyakit Tanaman Yang Disebabkan Oleh Bakteri dan Virus


LAPORAN SEMENTARA PRAKTIKUM
DASAR-DASAR PERLINDUNGAN TANAMAN
PENGENALAN PENYAKIT TANAMAN
Disebabkan Oleh Bakteri dan Virus









Oleh
ARIF HENDRA MUSTHOFA
E 281 08 006













PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS TADULAKO
2009
I.  PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Penyakit-penyakit yang diderita tanaman disebabkan oleh patogen bakteri dan virus yang mneyerang tanaman.  Adanya penyakit yang diderita tanaman dapat menyebabkan tanaman tidak bisa memberikan hasil yang baik secara kualitas dan kuantitas.  Sehingga mengakibatkan kerugian hasil panen yang diharapkan oleh orang yang membudidayakan tanaman tersebut.
Di Indonesia, tujuh di antara lebih dari 15 jenis patogen virus yang menginfeksi tanaman kacang-kacangan ditularkan melalui biji.  Penularan virus dari induk tanaman sakit terjadi melalui infeksi sel telur dan atau tepungsari. Dalam biji terinfeksi, virus terdapat di dalam jaringan kulit biji atau embrio (kotiledon dan lembaga) (Nasir, 2003).
Padi banyak dibudidayakan oleh petani Indonesia.  Dalam budidayanya sering dijumpai berbagai kendala, seperti musim, serangan hama dan penyakit, kebijakan pemerintah sampai harga jual yang rendah.  Adanya serangan penyakit seperti tungro masih menjadi kendala utama bagi petani.  Petani seakan sudah kehilangan akal untuk mengatasi dua serangan ini. Kerugian yang ditimbulkan tidak sedikit dan mengancam produksi beras nasional.  Akibat serangan ini, produksi bisa turun dari serangan rendah (15%) sampai serangan berat (79%). Penurunan produksi akibat serangan ini dapat dikurangi bila kita mengenali terlebih dahulu karateristik hama dan penyakitnya sehingga kita dapat mencari cara yang efektif dalam mengendalikannya (Anonim, 2009).
Blood Disease Bacterium (BDB) mempengaruhi pertanaman pisang dan pisang raja di Indonesia serta menyebabkan penurunan produksi penting di banyak tempat di negara tersebut.  Suatu perubahan warna coklat kemerah-merahan dari jaringan vaskular dan buah merupakan gejala khas penyakit tersebut. Agen penyebab blood disease aslinya dinamakan Pseudomonas celebensis, namun uraiannya belum cukup berdasarkan standar modern.  Bakteri tersebut dipercaya berkaitan erat dengan Ralstonia solanacearum, agen penyebab penyakit layu pada berbagai tanaman, termasuk pisang (Baharuddin, 2007). 

1.2  Tujuan dan Kegunaan
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui ciri morfologi tanaman yang terserang penyakit yang disebabkan oleh bakteri dan virus
Kegunaan dari praktikum ini adalah agar praktikan dapat membedakan ciri morfologi tanaman yang terserang oleh bakteri dan virus.

II.  TINJAUAN PUSTAKA
2.1  Penyakit Darah pada Pisang
Penyakit Darah Pisang kebanyakan mulai menunjukkan tanda serangan pada tanaman yang sudah berbuah, sedang pada tanaman yang masih muda belum menampakkan tanda serangan yang jelas.  Pada tanaman dewasa (tanaman pisang yang sudah berbuah) tanda serangan dapat dilihat pada daun ketiga atau keempat dari atas (pucuk) yang mulai menguning serta disusul dengan daun berikutnya lalu mengering.  Akibat dari semua daun menguning, maka pertumbuhan buah tidak sempurna.  Apabila buah-buah pisang tersebut di potong atau di belah terlihat adanya cairan atau getah kental berwarna coklat kemerahan yang berbau busuk. Pada bagian dalam bungkul dan batang pisang yang sudah terkena penyakit, apabila dipotong bagian tengah terlihat bintik-bintik berwarna coklat kemerahan. Akhirnya berlanjut tanaman pisang akan menjadi kering dan mati (Anonim, 2000).
Mengingat bakteri yang menyebabkan Blood Disease Bacterium (BDB) merupakan bakteri tular tanah yang mempunyai banyak tanaman inang dan mampu bertahan lama di dalam tanah meskipun tanpa tanaman inang, maka lahan yang sudah terinfestasi oleh bakteri tersebut, baik yang berasal dari pertanaman pisang maupun dari bekas pertanaman lain yang juga menjadi inangnya, akan memungkinkan timbulnya kembali penyakit layu bakteri pada tanaman pengganti berikutnya (Titik, 2001).
Ada beberapa upaya yang bisa dilaksanakan untuk mengendalikan Penyakit Darah Pisang pada tingkat serangan tertentu sebagai berikut: perketat karantina, buah pisang dapat diangkut ke mana-mana untuk tidak terjadi serangan (menular) pada lokasi lain.  Sanitasi, sanitasi sangat penting bagi petani yang mempunyai areal tanaman pisang, agar diperhatikan lingkungan kebun pisang agar selalu bersih, jangan sembarangan menempatkan batang-batang pisang yang sudah di tebang.  Desinfektan peralatan, peralatan yang akan dipergunakan harus disteril/dibersihkan dulu.  Pemupukan, pemupukan dengan bahan organik akan meningkatkan aktivitas mikroorganisme antagonis untuk membunuh bakteri perusak.  Isolasi spot, apabila tanaman pisang sedang/akan keluar bunga dilakukan proteksi terhadap bunga tanaman pisang dari vektor serangga yaitu : di bungkus dengan kain, kertas agar tidak di kunjungi oleh serangga penular sampai selesai pembungaan.  Eradikasi, apabila sudah terjadi serangan berat pada tanaman pisang, diadakan pemusnahan (menebang semua pisang yang ada pada lahan tersebut, dan diganti dengan tanaman pisang yang tahan terhadap penyakit darah pisang) (Anonim, 2000).

2.2  Layu Bakteri pada Tomat
Gejala serangan penyakit layu bakteri yang disebabkan Pseudomonas solanacearum ditandai dengan adanya daun yang layu dimulai dengan daun yang muda atau pucuk kemudian berlanjut pada seluruh bagian tanaman.  Serangan ini biasanya mulai nampak pada waktu tanaman umur 6 minggu.  Jika tanaman di cabut kemudian batangnya dipotong akan terlihat berkas pembuluh berwarna coklat dan apa bila ditekan dari lingkaran berkas pembuluh akan keluar massa bakteri yang berwarna ke abu-abuan.  Massa bakteri akan terlihat lebih jelas lagi apabila potongan batang tersebut dimasukan dalam air jernih dimana setelah batang tersebut dimasukkan beberapa menit kemudian akan terlihat benang-benang putih halus yang keluar dan bila digoyangkan benang tersebut akan putus.  Benang-benang putih tersebut merupakan massa bakteri (Anonim, 2007).
Bakteri penyakit layu yang disebabkan Pseudomonas solanacearum mempunyai banyak tumbuhan inang, antara lain tomat, cabe, terung, tembakau, kacang tanah dan jenis tanaman terung terungan (Solanaceae).  Bakteri ini dapat terangkut oleh air , melalui tanah dan alat-alat pertanian yang digunakan serta bibit yang di gunakan bila mengandung penyakit dapat juga menular kannya. Bakteri ini dapat menginfeksi bagian-bagian tanaman yang utuh yang berada dalam tanah dan proses infeksinya akan lebih cepat terutama pada bagian-bagian tanaman yang terluka (Anonim, 2007).
Bakteri Pseudomonas solanacearum merupakan penghuni tanah tetap (Soil inhabitat) atau lingkungan air tawar dan air laut. Bakteri ini akan menginfeksi bagian tanaman yang utuh terlebih pada bagian yang luka akibat serangan nematoda.  Seperti kita ketahui bersama, nematoda dapat berinteraksi sinergistik dengan bakteri Pseudomonas solanacearum dalam menyerang tanaman.  Mencermati keadaan tersebut diatas maka usaha pengendalianya dapat dilakukan dengan beberapa upaya di antaranya rotasi tanaman, membuat drainase, menanam benih yang sehat dan tahan dan penggunaan bakterisida (Anonim, 2007).

2.3  Penyakit Bercak Daun
PStV (Peanut Stripe Virus) merupakan patogen penting penyebab penyakit bilur pada tanaman kacang tanah.  Daun tanaman yang terinfeksi menunjukkan gejala bercak hijau atau bilur yang dikelilingi garis klorotik dan agak berkerut. Pada perkembangan lebih lanjut muncul gejala mosaik.  Gejala lainnya adalah bercak tak beraturan (blotch ) atau garis-garis klorotik pada daun, tergantung pada strain PStV (Peanut Mottle Virus) yang menyerang.  Serangan PStV (Peanut Mottle Virus) dapat menyebabkan pertumbuhan tanaman terhambat dan produksi kacang tanah menurun hingga 60%.  Di dalam jaringan kacang tanah, PStV membentuk badan inklusi silindrikal seperti cakra atau cincin (Anonim, 2008).
Virus ditularkan dari satu tanaman ke tanaman lain oleh serangga sebagai vektor. Penyebarannya juga dapat terjadi melalui benih karena PStV (Peanut Mottle Virus) termasuk seed born disease.  Sampai saat ini, belum ditemukan varietas kacang tanah yang tahan (Anonim, 2008).
Di lapangan, virus PStV (Peanut Stripe Virus) disebarkan oleh berbagai jenis kutu daun (Aphis sp.) secara nonpersisten.  Hal ini berarti virus tersebut secara mudah dan dalam waktu yang sangat singkat dapat dihisap dari tanaman sakit dan ditularkan ke tanaman sehat di dekatnya.  Selain Aphis craccivora yang biasa hidup dan berkembang pada tanaman kacang tanah, lebih dari 10 jenis kutu daun lain termasuk yang hidup pada gulma dan rumput-rumputan mampu menularkan virus (Nasir, 2003).

Pendekatan yang biasa dilakukan untuk mengatasi serangan PStV (Peanut Stripe Virus) adalah melalui pengendalian terpadu, antara lain penggunaan varietas tahan.  Alternatif lain yang murah dan mudah adalah penggunaan benih bebas virus dengan tujuan untuk mengurangi atau menghilangkan sumber infeksi virus. penyakit.  Upaya lain adalah melakukan monitoring secara berkala melalui pengamatan visual terhadap gejala yang muncul.  Namun cara ini sulit dilakukan, karena adanya kemungkinan munculnya infeksi laten atau bahkan infeksi virus lain yang gejalanya mirip.  Cara yang paling tepat dan cepat untuk mendeteksi gejala yang disebabkan oleh virus ialah dengan uji serologi (Ifa, 2005).
Gejala serangan yang sering dijumpai di lapang terhadap PMoV adalah gejala belang berwama hijau tua dikelilingi daerah yang lebih terang atau hijau kekuning-kuningan.  Pada umumnya gejala awal pada daun muda terlihat adanya bintik-bintik klorotik yang selanjutnya berkembang menjadi belang-belang melingkar.  Pada daun tua berwarna hijau kekuningan dengan belang-belang berwarna hijau tua.  Pertembuhan tanaman yang terinfeksi menjadi terhambat sehingga tanaman menjadi pendek dibandingkan tanaman sehat terutama apabila terinfeksi pada saat tanaman muda.  Penyimpangan anatomi juga terdapat pada lembaga biji tanaman sakit (Anonim, 2007).
Tanaman Kacang Tanah yang terinfeksi PMoV (Peanut Mottle Virus) dan PStV (Peanut Mottle Virus) menunjukkan gejala serangan yang sama yaitu berupa belang-belang (Mottle) pada daun.  Hasil penelitian tentang kisaran inang dan hubungan serologi membuktikan bahwa PMoV dan PStV merupakan jenis virus yang berbeda, meskipun keduanya masuk ke dalam kelompok yang sama yaitu Potato virus-y (Nasir, 2007).
Penyakit PMoV (Peanut Mottle Virus) dapat ditularkan secara mekanik dengan menggosokkan cairan daun sakit ke daun tanaman yang diuji dengan efektivitas penularan 22,5-100 %.  Penularan secara mekanik melalui kontak gesekan daun atau akar tanaman sangat kecil kemungkinannya terjadi.  Serangga vector yang dapat menularkan penyakit belang kacang tanah adalah beberapa jenis kutu daun yaitu Aphis craccivora, A. glysines, A. porii, Rhopalosiphum maydis, R,  padi. Scizaphis rotundiventrism Trichosiphonaphis sp. Hysteroneura setariae dan Mycus perslcae (Anonim, 2007).
Pengendalian penyakit PMoV (Peanut Mottle Virus) dapat dilakukan dengan cara menanam varietas tahan, menanam benih sehat, pengendalian serangga vector, mengatur waktu tanam dan sanitasi (Anonim, 2007).

2.4  Penyakit Kerdil Hampa
Adapun gejala atau tanda kerusakan yang ditimbulkan dari penyakit yang disebabkan Virus Tungro adalah : Gejala serangan awal di lahan biasanya khas dan menyebar secara acak.  Daun  padi yang terserang virus tungro mula-mula berwarna kuning oranye dimulai dari ujung-ujung, kemudian lama-kelamaan berkembang ke bagian bawah dan tampak bintik-bintik karat berwarna hitam.  Bila keadaan ini dibiarkan jumlah anakan padi akan mengalami pengurangan, tanaman menjadi kerdil, malai yang terbentuk lebih pendek dari malai normal selain itu banyak malai yang tidak berisi (hampa) sehingga tidak bisa menghasilkan (Anonim, 2007).
Cepatnya perkembangan penyakit tungro disebabkan antara lain oleh : cepatnya perkembangan serangga penular  (wereng hijau), masih dilakukannya penanaman bibit padi yang tidak diketahui asal usul dan kesehatannya, terutama dari daerah endemis tungro.  Kemudian adanya penanaman varietas tidak  tahan tungro yang didu-kung pola tanam tidak teratur, dan para petani masih enggan melakukan pemusnahan (eradikasi) pada tanaman yang terkena serangan tungro akibatnya tanam padi sehat yang lain ikut terkena penyakit ini (Anonim, 2007).
Spesies Nepohitetix virescens Distant adalah vektor yang paling efisien menularkan kompleks virus penyebab penyakit tungro.  Spesies tersebut saat ini mendominasi populasi spesies wereng hijau di hampir seluruh pertanaman padi kecuali Kalimantan Selatan.  Permencaran imago dilaporkan sangat mempengaruhi dinamika populasi wereng hijau.  Apabila sumber inokulum virus telah tersedia, aktivitas pemencaran imago tersebut diperkirakan sangat mempengaruhi penyebaran tungro.  Virus tungro hanya dipindahkan oleh wereng hijau (Anafzhu, 2009).
Tungro adalah penyakit yang disebabkan virus pada padi yang biasanya terjadi pada fase pertumbuhan vegetatif dan menyebabkan tanaman tumbuh kerdil dan berkurangnya jumlah anakan.  Pelepah dan helaian daun memendek dan daun yang terserang berwarna kuning sampai kuning-oranye.  Daun muda sering berlurik atau strip berwarna hijau pucat sampai putih dengan panjang berbeda sejajar dengan tulang daun.  Gejala mulai dari ujung daun yang lebih tua.  Daun menguning berkurang bila daun yang lebih tua terinfeksi (Anafzhu, 2009).
Pengendalian penyakit tungro dilakukan secara dini (tanaman muda peka) dengan menerapkan sistem pengendalian penyakit secara terpadu, yaitu eradikasi sumber infeksi (tanaman sakit, singgang, voluntir dan rumput-rumputan inang), penggunaan varietas tahan, budi daya tanaman sehat dan pengendalian serangga penular (Wawan, 2009).
III.  METODOLOGI PRAKTEK
3.1  Tempat dan Waktu
Pelaksanaan praktikum tentang Pengenalan Penyakit yang disebabkan oleh Bakteri dan Virus ini dilaksanakan di Laboratorium Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Tadulako, Palu. Pada tanggal 11 November 2009, pada pukul 14.00 Wita sampai 17.30 Wita.

3.2  Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah alat pemotong, alat tulis menulis, dan buku gambar.
Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah Buah dan Batang Pisang (Musa sp.) yang terserang oleh Blood Disease Bacterium (BDB), Tanaman Tomat (Licopersicum esculentum) yang terserang Pseudomonas solanacearum, Tanaman Kacang Tanah (Arachis hypogaea L.) yang terserang  PMoV (Peanut Mottle Virus) dan PStV (Peanut Stripe Virus), serta Tanaman Padi (Oryza sativa) yang terserang Virus Tungro.
3.3  Metode Praktek
Mengambil tanaman yang menunjukan gejala penyakit, untuk Tanaman pisang yang terserang oleh BDB (Blood Disease Bacterium) menggunakan alat pemotong untuk memotong batang pisang. Kemudian menggambar spesimen tersebut secara jelas, dan memberikan keterangan dan penjelasan tentang gejala tanaman yang terserang penyakit.
IV.  HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1  Hasil
                                                                                                     



Ket:
Buah pisang yang tanasi.

Gambar 27.  Buah Pisang (Musa sp.) yang Terserang oleh  BDB (Blood Disease Bacterium).

                                                                                                     

Ket:
Bercak yang berwarna coklat pada  Buah pisang yang terserang BDB (Blood Disease Bacterium)




Gambar 28.  Buah Pisang (Musa sp.) yang Terserang oleh BDB (Blood Disease Bacterium) yang dibelah.






Ket:
Bercak hitam pada batang pisang yang menunjukkan serangan BDB (Blood Disease Bacterium)

                                     





Gambar 29.  Batang Pisang (Musa sp.) yang Terserang oleh BDB (Blood Disease Bacterium).

                                                                                                     
 
  Daun yang layu

Ket:
Garis hitam pada        Batang Tomat             (Licopersicum esculentum) yang diiris.



Gambar 30. Tanaman Tomat (Licopersicum esculentum) yang Terserang Pseudomonas solanacearum.

                                                                                                     

Ket:
Bercak hitam berbentuk cincin.




Gambar 31.   Daun Kacang Tanah (Arachis hypogaea L.) yang Terserang PMoV (Peanut Mottle Virus).

                                                                                                     

Ket:
Bercak hitam berbentuk cincin yang mengikuti tulang daun


Gambar 32.   Daun Kacang Tanah (Arachis hypogaea L.) yang Terserang PStV (Peanut Stripe Virus).

                                                                                                     



Ket:
Bercak coklat yang menunjukan serangan virus Tungro.



Gambar 33.   Tanaman Padi (Oryza sativa) yang Terserang virus Tungro.

4.2  Pembahasan
Pada pengamatan pertama yaitu Buah Pisang (Musa sp.) yang terserang oleh BDB (Blood Disease Bacterium) menunjukkan ciri yaitu buah pisang yang tidak mengalami pertumbuhan yang tidak sempurna (Tanasi) dan setelah dibelah terdapat bercak hitam pada daging buah. Seperti yang terlihat pada              (Gambar 27 dan Gambar 28).
Pada Tanaman Pisang dewasa (Tanaman Pisang yang sudah berbuah) tanda serangan dapat dilihat pada daun ketiga atau keempat dari atas (pucuk) yang mulai menguning serta disusul dengan daun berikutnya lalu mengering.  Akibat dari semua daun menguning, maka pertumbuhan buah tidak sempurna.  Apabila buah-buah pisang tersebut di potong atau di belah terlihat adanya cairan atau getah kental berwarna coklat kemerahan yang berbau busuk (Anonim, 2000).
Selanjutnya pengamatan yang dilakukan pada Batang Pisang (Musa sp.) yang terserang oleh BDB (Blood Disease Bacterium) menunjukkan adanya bercak hitam pada bagian tengah batang pisang. Seperti yang terlihat pada (Gambar 29).
Pada bagian dalam bungkul dan batang pisang yang sudah terkena penyakit, apabila dipotong bagian tengah terlihat bintik-bintik berwarna coklat kemerahan. Akhirnya berlanjut tanaman pisang akan menjadi kering dan mati (Anonim, 2000).


Ada beberapa upaya yang bisa dilaksanakan untuk mengendalikan Penyakit Darah Pisang pada tingkat serangan tertentu sebagai berikut: perketat karantina, sanitasi, desinfektan peralatan, pemupukan, isolasi spot dan eradikasi (Anonim, 2000).
Pengamatan yang dilakukan pada Tanaman Tomat  (Licopersicum esculentum) yang terserang Pseudomonas solanacearum menunjukkan ciri-ciri serangan yaitu layunya daun Tanaman Tomat dan ketika batangnya diiris akan nampak garis hitam. Seperti yang terlihat pada (Gambar 30).
Penyakit layu bakteri pada Tomat yaitu BDB (Blood Disease Bacterium) yang disebabkan Pseudomonas solanacearum ditandai dengan adanya daun yang layu dimulai dengan daun yang muda atau pucuk kemudian berlanjut pada seluruh bagian tanaman.  Jika tanaman di cabut kemudian batangnya dipotong akan terlihat berkas pembuluh berwarna coklat.  Massa bakteri akan terlihat lebih jelas lagi apabila potongan batang tersebut dimasukan dalam air jernih dimana setelah batang tersebut dimasukkan beberapa menit kemudian akan terlihat benang-benang putih halus yang keluar dan bila digoyangkan benang tersebut akan putus.  Benang-benang putih tersebut merupakan massa bakteri (Anonim, 2007).
Nematoda dapat berinteraksi sinergistik dengan bakteri Pseudomonas solanacearum dalam menyerang tanaman.  Mencermati keadaan tersebut maka usaha pengendalianya dapat dilakukan dengan beberapa upaya di antaranya rotasi tanaman, membuat drainase, menanam benih yang sehat dan tahan dan penggunaan bakterisida (Anonim, 2007).
Kemudian pada pengamatan Tanaman Kacang Tanah (Arachis hypogaea L.) yang terserang PMoV (Peanut Mottle Virus) menunjukkan ciri-ciri yaitu adanya bercak hitam berbentuk cincin pada daun Kacang Tanah. Seperti yang terlihat pada (Gambar 31).
Gejala serangan yang sering dijumpai di lapang terhadap PMoV (Peanut Mottle Virus) adalah gejala belang berwama hijau tua dikelilingi daerah yang lebih terang atau hijau kekuning-kuningan.  Pada umumnya gejala awal pada daun muda terlihat adanya bintik-bintik klorotik yang selanjutnya berkembang menjadi belang-belang melingkar.  Pada daun tua berwarna hijau kekuningan dengan belang-belang berwarna hijau tua (Anonim, 2007).
Pada pengamatan Tanaman Kacang Tanah (Arachis hypogaea L.) yang terserang PStV (Peanut Stripe Virus) menunjukkan gejala serangan yang hampir sama dengan ciri gejala serangan PMoV (Peanut Mottle Virus), hanya saja bercak pada gejala serangan PStV (Peanut Stripe Virus) mengikuti tulang daun. Seperti yang terlihat pada (Gambar 31).
Daun tanaman yang terinfeksi menunjukkan gejala bercak hijau atau bilur yang dikelilingi garis klorotik dan agak berkerut.  Pada perkembangan lebih lanjut muncul gejala mosaik.  Gejala lainnya adalah bercak tak beraturan (blotch ) atau garisgaris klorotik pada daun, tergantung pada strain PStV yang menyerang (Anonim, 2008).
Tanaman Kacang Tanah yang terinfeksi PMoV (Peanut Mottle Virus) dan PStV (Peanut Stripe Virus) menunjukkan gejala serangan yang sama yaitu berupa belang-belang (Mottle) pada daun.  Hasil penelitian tentang kisaran inang dan hubungan serologi membuktikan bahwa PMoV dan PStV merupakan jenis virus yang berbeda, meskipun keduanya masuk ke dalam kelompok yang sama yaitu Potato virus-y (Nasir, 2007).
Pada pengamatan terhadap Tanaman Padi (Oryza sativa) yang terserang virus Tungro yaitu menunjukkan ciri morfologi adanya bercak berwarna coklat kehitaman pada batang, daun dan bulir padi serta ukuran tanaman yang kerdil. Seperti yang terlihat pada (Gambar 33).
Daun  padi yang terserang virus tungro mula-mula berwarna kuning oranye dimulai dari ujung-ujung, kemudian lama-kelamaan berkembang ke bagian bawah dan tampak bintik-bintik karat berwarna hitam.  Bila keadaan ini dibiarkan jumlah anakan padi akan mengalami pengurangan, tanaman menjadi kerdil, malai yang terbentuk lebih pendek dari malai normal selain itu banyak malai yang tidak berisi (hampa) sehingga tidak bisa menghasilkan (Anonim, 2007).
Pengendalian penyakit tungro dilakukan secara dini (tanaman muda peka) dengan menerapkan sistem pengendalian penyakit secara terpadu, yaitu eradikasi sumber infeksi (tanaman sakit, singgang, voluntir dan rumput-rumputan inang), penggunaan varietas tahan, budi daya tanaman sehat dan pengendalian serangga penular (Wawan, 2009).
V.  KESIMPULAN DAN SARAN
5.1  Kesimpulan
Dari hasil pengamatan yang dilakukan maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut :
1.    Adanya penyakit yang diderita tanaman dapat menyebabkan tanaman tidak bisa memberikan hasil yang baik secara kualitas dan kuantitas.
2.    Pada umumnya penyakit yang diseberkan oleh vektor penyebar virus dan virus yang menyerang tanaman berasal dari tanaman yang ditanam sebelumnya.
3.    Ada beberapa upaya yang bisa dilaksanakan untuk mengendalikan Penyakit pada tanaman yaitu sebagai berikut: pengendalian vektor penyebar virus, rotasi tanaman, memperketat karantina, sanitasi, desinfektan peralatan, pemupukan, isolasi spot dan eradikasi

5.2  Saran
Saran saya sebagai praktikan yaitu sebaiknya kebersihan laboratorium di jaga dengan baik. Agar para praktikan dapat mengikuti praktek dengan nyaman.
DAFTAR PUSTAKA
Anafzhu, 2009. Penyakit. http://anafzhu.blogspot.com/2009/06/penyakit-tungro.html. Diakses pada tanggal 12 November 2009.

Anonim, 2000. Upaya Pengendalian Penyakit Darah Pisang (Pseudomonas solanacearum). http://www.pustaka-deptan.go.id/agritek/ ntbr0106 .pdf. Diakses pada tanggal 12 November 2009.

______, 2007. Layu Bakteri Penyakit Yang Menjadi Momok Petani Cabe Dan Tomat.  http: //www.tanindo.com/abdi3/hal3001.htm.
Diakses pada tanggal 12 November 2009.

______, 2007. Pengendalian Penyakit Virus Belang Pada Tanaman Kacang Tanah. http://warintek.bantulkab.go.id/web.php?mod=basisdata&kat=1& sub=2&file=37. Diakses pada tanggal 12 November 2009.

______, 2008. Kit ELISA untuk Deteksi Dini Peanut Stripe Virus. http://biogen.litbang.deptan.go.id/produk/info/leaflet%20Kit%20ELISA.pdf
Diakses pada tanggal 12 November 2009.

______, 2009.  Bagaimana Cara Mengendalikan Wereng Coklat dan Tungro. http://www. tanindo.com/abdi7/hal2601.htm.
Diakses pada tanggal 12 November 2009.

Baharuddin, 2007.   Karakterisasi Bakteri Penyebab Blood Disease Pada Pisang. http://www.isaaa.org/ Kc/Cropbiotechupdate/translations/bahasa/bahasa-2007-04-27.pdf. Diakses pada tanggal 12 November 2009.

Ifa M., dkk., 2005.  Produksi  Antibodi  Poliklonal  Peanut  Stripe  Virus. http://www. aseanbiotechnology.info/Abstract/23006622.pdf.
Diakses pada tanggal 12 November 2009.

Nasir S., 2003. Sistem Produksi Kacang-kacangan untuk Menghasilkan Benih Bebas Virus. http://www.puslittan.bogor.net/berkasPDF/IPTEK/2007/Nomor-1/05-Nasir%20Saleh.pdf. Diakses pada tanggal 12 November 2009.

______, 2007. Ekobiologi Dan Optimalisasi Pengendalian Penyakit Virus Belang Pada  Kacang  Tanah  Melalui  Pengelolaan Tanaman Secara Terpadu. http://www.pustaka-deptan.go.id/publikasi/p3222031.pdf.
Diakses pada tanggal 12 November 2009.

Titik N. A., 2001. Patogenisitas Bakteri Layu Pisang (Ralstonia sp.) Pada Beberapa Tanaman Lain. http://jurnalhpt.fp.unila.ac.id/files/disk1/1/jhpt--titiknurae-10-1-4_titik-y.pdf. Diakses pada tanggal 12 November 2009.
Wawan J., 2009. Pengendalian Terpadu Penyakit Tungro. http://wawan-junaidi.blogspot.com/2009/09/pengendalian-penyakit-tungro.html. Diakses pada tanggal 12 November 2009.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar